Tampilkan postingan dengan label Sambutan Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambutan Sahabat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2008

Dari Mas Noor Arief


A. Noor Arief

Buku ini bukan saja sangat inspiratif sehingga membawa kita terbang mengawang-awang, namun sekaligus aplikatif, karena beberpa tips praktis menyelinap dalam beberapa bab yang menuntun pembaca bagaimana cara menunaikan hajat untuk segera mulai berbisnis khususnya di bidang kreatif.

Jumat, 08 Agustus 2008

Dari Mas Andi S. Boediman


Andi S. Boediman
Strategic Innovation Consultant

Saya bangga bisa bersanding sebagai rekan kerja dan sekaligus berkompetisi dengan Arief dari Petakumpet. Petakumpet adalah ekspresi dari kreativitas, tetapi kreativitas yang dibangun melalui usaha keras, proses dan eksplorasi yang konsisten. Buku ini berisi kiat membangun perusahaan periklanan yang punya visi menjadi pemain dunia.



Selasa, 05 Agustus 2008

Kreatif atau Mati!


M. Reza Tarmizi
President Director
PT. Petakumpet Creative Network

“Cogito ergo sum,” kata Rene Descartes. “Aku berpikir, maka aku ada.”
Keragu-raguan filsuf rasionalis (1596-1650), itulah yang diyakini banyak orang telah melahirkan ilmu pengetahuan. Bagi Petakumpet, ungkapan Descartes bisa menjadi “Semua berawal dari ide.” Tanpa ide, hidup menjadi hambar, dunia tanpa masa depan.
Orang-orang besar – dari Napoleon Bonaparte sampai Bung Karno – selalu mempunyai ide-ide besar. Bangsa-bangsa yang hebat – dari Britania Raya sampai Amerika Serikat dan Rusia – selalu dibangun di atas landasan ide-ide yang hebat. Ide mungkin bukan segalanya, tapi tanpa ide segalanya menjadi tidak berarti apa-apa.
Ide itu kreativitas!
Nggak percaya? Coba kembangkan ide tanpa kreativitas, pasti hasilnya nol besar! Ide itu bahan baku, kreativitas itu cara memasak! Maka, tanpa kreativitas, ide menjadi sekadar bahan baku yang mati. Ide dan kreativitas mirip dua sisi dari mata uang yang sama. Dibolak-balik, ya namanya tetap saja mata uang. Plato menyebutnya “dunia ide,” dan “dunia ide” itu akan bermanfaat bagi kehidupan kalau sudah berinteraksi dan bersinergi dengan dunia nyata; dunia yang dihadapi manusia sehari-hari.

***

Nah! Bisnis adalah dunia nyata. Banyak orang yang mengira bisnis tidak ada kaitan langsung dengan “dunia ide.” Sudah pasti, pandangan itu keliru! Petakumpet adalah bukti bersinerginya antara ide, kreativitas, dan dunia nyata. Namanya: bisnis ide!

Sinergi itu juga menjawab tantangan marketing 3.0, marketing era budaya dan kreativitas. Itulah kredo yang patut dicamkan dan dikembangkan masyarakat marketing dan advertising sampai tahun 2025.

Meminjam istilah Jack Trout “differentiate or die,” maka kredo marketing-advertising masa kini adalah: “Creative or die!” Tinggal pilih, mau kreatif – untuk kemudian berkembang maju – atau mau mati! Sederhana ‘kan?

Petakumpet menjawab tantangan itu bukan dengan pernyataan, wacana, apalagi omong kosong. Jawaban itu bernama bisnis ide; bisnis yang menggunakan ide dan kreativitas sebagai komoditas utama.

Bisnis ide, tentu tidak sekadar menjual produk atau servis. Lebih dari itu, menjual ide dan kreativitas. Intangible banget ya? Pasti! Karena dunia masa kini memang makin intangible. Makin maya, makin tak teraba.

Hanya orang-orang yang mampu merengkuh yang maya dan tak teraba itulah yang bisa muncul sebagai pemenang di era persaingan yang makin bengis sekarang ini.

***

Buku berjudul “Jualan Ide Segar" ini benar-benar segar. Lebih segar lagi, karena dibumbui “membangun ide miliaran rupiah tanpa modal.” Meminjam istilah kulinernya Bondan Winarno, ide yang segar itu pokoké mak nyus! Top markotob!

Kesegaran ide dan kreativitas itu sumber dari segala sumber entrepreneurship, creativepreneurship, dan preneurship-preneurship yang lain. Tanpa ide dan kreativitas, seratus persen mustahil preneur-preneur itu bisa terwujud. Kata orang-orang yang mengerti manajemen, seorang entrepreneur harus berpikir di luar kotak (think out of the box). Nah, buku ini mengajari cara-cara think out of the box itu.

Jadi, bagi Anda yang tidak ingin maju dan suka bermalas-malas, saya sarankan jangan sekali-kali membaca buku ini. Buku ini khusus bagi orang-orang yang kreatif – atau setidak-tidaknya ingin kreatif –, orang-orang yang memiliki semangat perubahan (the spirit of change). Buku ini racun bagi orang yang malas berpikir, tapi madu bagi orang yang gemar olah pikir dan pantang pikun.

Dalam perspektif Descartes, orang-orang yang malas berpikir adalah orang-orang yang hidup antara ada dan tiada; ‘’hidup enggan, mati tak mau.’’ Maka, berpikirlah agar Anda tetap ada! Resep mujarabnya?

Ya baca buku ini!

Minggu, 03 Agustus 2008

Dari Mas Danton



Buku ini benar-benar muntahan mimpi-mimpi, gagasan-gagasan kreatif dan kegelisahan yang tak terbendung lagi. Catatan terpenting dari buku ini adalah bagaimana membangun pijakan yang kuat, setia kepada visi yang dicanangkan serta bertindak secara nyata.

Danton Sihombing, MFA.
Founder
Inkara Design

Dari Guru Saya Pak Prie


Dr. Priyanto S.
Dosen Senior Deskomvis ITB / Karikaturis Majalah Tempo
Rasanya baru kemarin saya dengan Pak Umar Hadi (Pengajar DKV ISI) kesasar-sasar cari studio Petakumpet tahun 2002, di Gedungkiwo. Tapi begitu ketemu, sebagian stafnya malah ngumpet, takut jumpa Pak Dosen ISI karena belum beres kuliah.

Di situ kami disambut senyum lebar Mas Arief, sang boss yang sedang naik daun. Waktu itu keluhan beliau, dengan nama “Petakumpet” sulit dapat kepercayaan untuk kredit bank. Dalam enam tahun ternyata mitos tukang ngumpet sirna, terbukti dengan meningkatnya perusahaan ini dari tingkat UKM (Usaha Kecil Menengah) jadi Usaha Kelas Milyar-milyaran.

Secara jujur dan blak-blakan buku ini membeberkan kiat yang dapur banget pahit getir dan sukses Arief Budiman dan Petakumpetnya. Buku ini bagus untuk dibaca teman-teman yang akan maupun sedang meniti karir di bisnis kreatif. Berbagai hal dikupas habis: olah kreatif, sistem manajemen, kiat iklan, branding dan banyak lagi.

Mas Arief, trims mau berbagi pengalaman buat kita semua. Semoga manfaat bagi orang banyak, amiiin!

Ide Itu Milik Semua Orang




Budiman Hakim
Executive Creative Director MACS 909
Penulis Buku Terlaris Lanturan Tapi Relevan & Ngobrolin Iklan Yuk!

Janganlah mencurigai bahwa Arief Budiman sedang berpromosi tentang dirinya atau lagi jual kecap tentang Petakumpetnya. Dari namanya saja kita tau bahwa pengarang buku ini adalah seorang yang Arief dan Budiman. Dan sebagai penyandang nama yang sama, Budiman, saya yakin sekali bahwa apa yang disampaikannya dalam buku ini adalah sesuatu keinginan berbagi yang tulus kepada kita semua yang tertarik pada dunia advertising dengan segala seluk beluknya.

Menggunakan pengalaman sendiri sebagai ilustrasi adalah cara yang paling jujur dan bisa dipercaya. Karena pengarang menjalani sendiri semua perjalanan usahanya bersama Petakumpet hingga sukses seperti sekarang ini. Saya pun setiap kali mengadakan seminar atau workshop hampir selalu menampilkan contoh-contoh yang dibuat oleh perusahaan saya. Kenapa? Karena saya sangat mengerti secara detil pembuatan iklan itu, dari brief, strategi sampai proses penggalian ide dan akhirnya tayang di media. Coba kalau saya memakai contoh iklan yang dibuat oleh Ogilvy Mumbai? Apakah saya berani bercerita bagaimana proses idenya terlahir? Sok tau banget kan?

Buku ini seharusnya menyadarkan pembacanya bahwa Tuhan itu maha adil. Ide tidak hanya Dia berikan pada orang-orang pintar, tidak hanya dikasih ke para sarjana, tidak hanya ditawarkan ke orang kaya. Semua orang diberkahi oleh Tuhan dengan ide. Persoalannya adalah bagaimana kita membuat diri cukup peka untuk melihat ide itu. Kemampuan itulah yang harus selalu kita asah. Setelah ide itu diperoleh, kita perlu memikirkan bagaimana meramu ide itu sesuai dengan keinginan klien kemudian menjualnya dengan mahal. Kalau kita cukup peka? Wah bersiap-siaplah menjadi orang kaya.

Seorang teman saya pernah berkata ‘Einstein yang jenius itu ternyata belum menggunakan separuh dari kemampuan otaknya.’ Nah loh? Kalau Einstein aja baru segitu, baru berapa persenkah kita memanfaatkan otak kita?

Arief Budiman telah memaparkan pengalamannya di buku ini. Banyak yang telah diperolehnya tapi lebih banyak lagi yang masih dikejarnya. Orang pintar sering mengatakan ‘Belajarlah dari pengalaman’. Sementara orang cerdas selalu mempercayai ‘Belajarlah dari pengalaman orang lain.’

Dan kesempatan itu sudah terbuka bukan?


(Image Om BUd minjem dari http://www.macs909.com/mac909site/master.html)

Dari Om Hermawan Tanzil


Buku Jualan Ide Segar akan menyegarkan dunia kreatif kita yang saat ini sangat-sangat butuh ide-ide segar dari seorang graphic designer yang mempunyai karakter atau pesonality nakal, kreatif dan humanis.

Hermawan Tanzil
Founder Le Bo Ye Graphic Design

Jumat, 01 Agustus 2008

Menjual Ide Itu Indah

Harry Afandi
Tokoh Senior Periklanan

Mantan (Ketua PPPI Jateng & Manajer Iklan Suara Merdeka)

KALAU saja di Indonesia ini ada lebih banyak orang seperti Arief Budiman, maka saya yakin negeri ini tidak seterpuruk sekarang. Mengapa? Karena keterpurukan itu sesungguhnya karena kita miskin ide, miskin kreativitas. Arief Budiman dan Petakumpet adalah potret ide dan kreativitas yang dibutuhkan negeri ini.

Kreatif itu bukan sekadar berpikir asal beda, melainkan mengembangkan ide-ide dengan kreativitas untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Membaca peluanglah!

Kedengarannya sepele, tapi tidak gampang. Membaca bukan sekadar membaca, tapi membaca dengan cermat, kemudian memanfaatkan peluang itu menjadi benefit. Ya, seperti moto Petakumpet itu: “Good is not enough. It has to be sold.”

Zaman sekarang kan zaman benefiditas. Barangsiapa yang tidak mampu membidik peluang untuk meraih keuntungan, akan tergelincir ke jurang kekalahan. Eits! sori, ini bukan kapitalistis lho, sungguh! Ini sekadar mengingatkan betapa pentingnya kita mempunyai kepiawaian membaca dan memanfaatkan peluang untuk meraih keuntungan. Kita harus bisa menjual peluang-peluang itu; it has to be sold!

Menjual produk tentu lebih mudah, karena ukurannya jelas, bisa dilihat dan diraba. Menjual ide pasti lebih rumit. Ukurannya tidak jelas, tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Hebatnya, Arief dan Petakumpet itu bisa melakukan hal yang tidak mudah dan rumit itu.

Buku ini merupakan salah satu kejelian Arief membidik peluang. Bukan hanya itu, buku ini juga layak menjadi acuan bagi siapa saja yang ingin belajar “membidik” serta menjual ide dan kreativitas. Percayalah, menjual ide itu indah; jauh lebih indah daripada menjual produk.